Jayapura, Papua Terbit,-Universitas Muhammadiyah Papua menerima kunjungan Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm, bersama Sekretaris II Bidang Politik Zilla Boyer dan Penasehat Senior Kebijakan Politik Edwin Arifin, pada Rabu (23/9/2026), di Ruang A UM Papua. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan sekaligus menjajaki peluang kerja sama antara Kedutaan Besar Belanda dan UM Papua, khususnya dalam bidang pendidikan, penelitian, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan mahasiswa.
Dalam sambutannya, Adriaan menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan UM Papua. Bagi Adriaan, kunjungan tersebut juga menjadi pengalaman pertama dirinya datang ke Papua setelah sebelumnya Kedutaan Besar Belanda kembali melakukan kunjungan ke Papua setelah dua tahun.
“Pertama-tama terimakasih untuk sambutan yang hangat di Universitas Muhammadiyah Papua. Sebagai perwakilan dari kedutaan ini suatu situasi yang menarik karena setelah 2 tahun akhirnya kami bisa kembali lagi di Papua. Untuk saya sendiri ini pertama kalinya saya ke Papua dan ini pengalaman yang sangat menarik dan sangat unik,” ujarnya dalam bahasa Inggris, yang diteruskan melalui penterjemah.
Adriaan menjelaskan bahwa kedatangannya ke berbagai daerah di Indonesia merupakan bagian dari upaya untuk melihat Indonesia secara lebih luas. Dalam tiga bulan terakhir, ia telah mengunjungi Aceh, Medan, Manado, dan Ambon, sebelum melanjutkan kunjungan ke Jayapura.
“Sebagai perwakilan kedutaan, sebagai kedutaan Belanda di Indonesia kita menyadari bahwa Indonesia itu tidak terbatas hanya di Jakarta saja,” katanya.
Ia mengatakan bahwa kunjungan tersebut tidak hanya bertujuan untuk melihat kondisi di daerah, tetapi juga mendengar langsung situasi yang terjadi dan mencari peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama pada masa mendatang.
“Kunjungan-kunjungan ini bertujuan untuk mendengar secara langsung, melihat secara langsung situasi yang terjadi di suatu tempat dan melihat potensi untuk kerjasama di masa depan,” jelasnya.
Dalam membangun kerja sama, Adriaan menekankan bahwa pihaknya tetap menghormati Indonesia sebagai negara dengan batas-batasnya. Namun, hubungan yang dibangun diharapkan berlangsung dalam posisi yang setara.
“Kami menyadari kami sangat menghormati negara Indonesia dan batas-batasnya, tapi kami juga mau kerjasama yang setara,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan keinginannya untuk mendengar langsung mengenai pembangunan di Papua serta melihat peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi. Menurutnya, universitas dapat menjadi salah satu ruang untuk membangun pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Belanda.
“Oleh karena itu kami juga ingin mendengar dari Bapak dan Ibu bagaimana pembangunan yang ada di Papua, dan melihat kedepan, seperti contohnya dengan universitas itu pertukaran pengetahuan,” tuturnya.
Adriaan menilai kerja sama yang dilakukan saat ini pada dasarnya ditujukan untuk kepentingan generasi yang akan datang. Karena itu, mahasiswa dinilai perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan pandangan dan kebutuhan mereka.
“Intinya adalah untuk siapa kita melakukan semuanya ini tentu saja bukan untuk kita sekarang, tetapi juga untuk generasi yang akan datang,” katanya.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa penting agar kerja sama yang dibangun tidak hanya berorientasi pada pemberian pengetahuan, tetapi juga mendengarkan apa yang menjadi perhatian mahasiswa.
“Oleh karena itu pertemuan nanti dengan mahasiswa itu penting sekali, bukan saja mereka mendengar dari saya memberikan kuliah, tetapi juga mendengar dari mahasiswa sendiri apa yang mereka pikir penting untuk mereka,” lanjut Adriaan.
Lebih lanjut, Adriaan menyampaikan bahwa pihaknya ingin membangun hubungan yang berkelanjutan dengan Papua. Menurutnya, hubungan tersebut perlu dibangun melalui komunikasi dan kepercayaan, bukan hanya melalui kunjungan sesaat.
“Oleh karena itu kami mempertimbangkan untuk selalu ke Papua dalam beberapa tahun ini. Jadi bukan hanya datang terus berbicara, tetapi bagaimana mendengar, membangun kepercayaan, dan membangun hubungan,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Adriaan juga menyinggung pentingnya perdamaian, keadilan, dan kebebasan dalam kehidupan masyarakat. Ia menyebut tokoh agama memiliki peran penting dalam membangun perdamaian dan keadilan, sementara kebebasan beragama menjadi salah satu perhatian utama yang disampaikan.
“Oleh karena itu kita bekerjasama dalam ekobhineka, bagaimana bekerjasama untuk melatih orang dalam perdamaian dan keadilan. Karena kami berfikir bahwa tokoh agama punya peran yang sangat penting dalam membangun perdamaian dan keadilan,” jelasnya.
Selain kebebasan beragama, ia juga menyampaikan pentingnya kebebasan berpendapat, berbicara, dan kebebasan media. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu hal penting dalam mempersiapkan generasi masa depan.
“Dan selanjutnya ada kebebasan beragama juga kebebasan berpendapat, berbicara dan kebebasan media. Ya kita pikir apa yang penting bagi generasi masa depan, yang penting bagi mereka adalah pendidikan seperti sekarang, mulai dari universitas,” ujar Adriaan.
Adriaan kemudian melihat adanya peluang untuk membangun kolaborasi antara universitas di Belanda dan Indonesia. Ia mencontohkan kerja sama penelitian sebagai salah satu bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan secara setara dan saling menghargai.
“Oleh karena itu penting ada kolaborasi-kolaborasi antara Universitas di Belanda dan juga di Indonesia, Contohnya ada penelitian antara Belanda dan Indonesia. Ya, itu kerjasama antara universitas yang ada di Indonesia, dan juga yang ada di Belanda, dalam pandangan yang setara dan saling menghargai, dan menghadirkan hasil-hasil yang konkret,” tambahnya.
Selain kerja sama pendidikan dan penelitian, Adriaan juga menyampaikan pentingnya keterhubungan antara perguruan tinggi dan dunia usaha. Menurutnya, pola tersebut dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktik sekaligus mengembangkan potensi usaha.
“Di Belanda kita punya kerjasama yang kita sebut sebagai mutiara Belanda. Dimana kita kerjasama antara pemerintah, dunia usaha, dan universitas,” jelasnya.
Ia berharap pertukaran ide melalui kerja sama tersebut dapat membuat mahasiswa tidak hanya memperoleh pembelajaran selama berada di bangku kuliah, tetapi juga mampu melakukan sesuatu setelah menyelesaikan pendidikan.
“Jadi untuk ide-ide, yang kita ingin berbagi dengan Indonesia, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi melakukan sesuatu sesudah mereka selesai kuliah,” pungkasnya.
_*Rektor Rustamadji: UM Papua Menjunjung Tinggi Nilai Rahmatan lil Alamin, Toleransi, dan Multikulturalisme*_
Sementara itu, Rektor UM Papua, Dr. Rustamadji, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Wakil Duta Besar Belanda ke kampus UM Papua. Ia menjelaskan bahwa UM Papua menjunjung tinggi nilai rahmatan lil alamin, toleransi, dan multikulturalisme dalam menjalankan pendidikan.
“Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada Pak Adriaan yang sudah berkunjung di kampus Universitas Muhammadiyah Papua,” ujar Rustamadji.
Menurut Rustamadji, nilai rahmatan lil alamin yang diterapkan UM Papua diwujudkan melalui sikap toleransi terhadap manusia, alam, dan lingkungan serta perhatian terhadap keberagaman yang ada di Papua.
“Kampus yang menjunjung tinggi rahmatan lil alamin. Dalam konsep Islam kita memberikan keselamatan, kita toleran kepada semua, bukan hanya manusia, tetapi kepada alam, kepada binatang, dan kita memperhatikan sekali apa yang disebut multikultural,” katanya.
Rustamadji juga menjelaskan bahwa UM Papua memiliki mahasiswa yang mayoritas merupakan anak asli Papua dengan latar belakang agama dan budaya yang beragam. Ia menegaskan bahwa keberagaman tersebut menjadi bagian dari kehidupan akademik di UM Papua.
“Universitas Muhammadiyah Papua sudah membuktikan bahwa kami betul-betul bermanfaat di tanah Papua karena 93% mahasiswa kami adalah mahasiswa anak-anak Indonesia asli Papua,” jelasnya.
Komitmen terhadap keberagaman tersebut, lanjut Rustamadji, juga diwujudkan melalui pembelajaran agama yang disesuaikan dengan agama masing-masing mahasiswa. Ia mengatakan mahasiswa akan diajarkan oleh dosen yang seagama.
“Kami memperhatikan toleransi, memperhatikan multikultural, dan saya membuktikan bahwa mulai semester ini mahasiswa akan diajarkan agama sesuai dengan agamanya masing-masing,” ujarnya.
Menurut Rustamadji, kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya UM Papua memastikan kampus dapat menjadi ruang pendidikan bagi seluruh masyarakat.
“Ini pembuktian dari Universitas Muhammadiyah Papua untuk semua. Jadi, Universitas Muhammadiyah Papua untuk semua, bukan hanya untuk orang Islam, tetapi untuk semua,” tegasnya.
Rustamadji melihat adanya kesamaan perhatian antara UM Papua dan pihak Kedutaan Besar Belanda, terutama dalam hal perdamaian, kebebasan beragama, dan sikap saling menghargai antarpemeluk agama.
“Jadi, Pak Adriaan tidak salah datang ke Universitas Muhammadiyah Papua, karena kami sama-sama melakukan misi yang sama untuk tanah ini, untuk kedamaian, untuk kebebasan beragama dan saling menghargai, antara agama yang 1 dengan agama yang lain,” katanya.
Ia juga menyambut peluang untuk membangun sinergi dengan Pemerintah Belanda dan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan Papua.
“Kami juga mengharapkan bisa bersinergi dengan pemerintah Belanda dengan Kedubes Belanda di Indonesia untuk hal-hal kebaikan menyangkut tanah Papua,” ujar Rustamadji.
_*Kunjungan Dubes Belanda Buka Ruang untuk Kerjasama Peningkatan Kualitas SDM di Papua*_
Pada kesempatan yang sama Wakil Rektor I UM Papua, Dr. Indah Sulistiani, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi suatu kehormatan bagi UM Papua sekaligus membuka ruang untuk membangun jejaring kerja sama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di Papua.
“Kami merasa terhormat atas kedatangan Wakil Duta Besar di kampus kami yang masih kecil ya, kampus kami yang baru bertumbuh di tanah Papua. Universitas Muhammadiyah Papua menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas di Papua,” ujarnya.
Indah kemudian menjelaskan bahwa UM Papua merupakan alih status dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi yang berdiri sejak 2001 dan beralih status menjadi Universitas Muhammadiyah Papua pada 2020. Saat ini, UM Papua memiliki enam program studi dan satu program studi magister.
Ia menegaskan bahwa UM Papua sebagai bagian dari amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah terbuka bagi siapa saja untuk memperoleh pendidikan dan bersama-sama meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua.
“Jadi, di perguruan tinggi Muhammadiyah, kami sangat membuka ruang untuk siapa saja bergabung dalam upaya memajukan kualitas sumber daya manusia di Papua,” jelas Indah.
Indah menyambut baik peluang kerja sama yang dibahas dalam kunjungan tersebut. Menurutnya, kerja sama dapat dikembangkan dalam sejumlah bidang, mulai dari pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat hingga praktik atau magang mahasiswa.
“Kami sangat menyambut baik atas kedatangan Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia sebagai upaya untuk membangun jejaring kerjasama dialog ya, dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya mahasiswa-mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua sebagai generasi emas Papua di masa depan,” katanya.
Ia kemudian menyampaikan sejumlah bidang yang diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi antara UM Papua dan Kedutaan Besar Belanda.
“Banyak hal yang kami harapkan berkaitan dengan kedatangan Wakil Duta Besar tentunya, di banyak bidang, tadi ada bidang pendidikan, bidang penelitian, bidang pengabdian, maupun sebagai pelaksanaan praktek atau magang,” lanjut Indah.
Indah berharap komunikasi yang terbangun melalui kunjungan tersebut dapat ditindaklanjuti dalam bentuk kerja sama yang nyata dan sesuai dengan kebutuhan Papua.
“Semoga ke depan kerjasama antara Universitas dan Kedutaan Belanda di Indonesia bisa lebih meningkat dan terimplikasi di dalam kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan konteks di Papua,” harapnya.(Redaksi)

0 Komentar