Jayapura, Papua, Terbit, -Perguruan tinggi Universitas Ottow Geissler Papua (UOGP) Fakultas Pertanian,Kehutanan dan Kelautan di Indonesia yang pertama merekrut lima belas (15) mahasiswa program beasiswa dan penerapan kurikulum berbasis masyarakat adat khusus suku Namblong di tahun ajaran 2026.
Program beasiswa tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) oleh Direktur Utama/CEO Mitra BUMMA, Yayasan Menoken Indonesia Sejahtera Bumi Semesta, Ambrosius Ruwindriarto dan Dekan Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan UOGP, Efraim Mangaluk. Penandatanganan disaksikan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama UOGP, Triana Kubelaborbir, serta Pimpinan Yayasan Menoken, Membui dan Membumma, Roki Aloysius.
Direktur Utama/CEO Mitra BUMMA Ambrosius Ruwindriarto mengatakan, program beasiswa penerapan kurikulum berbasis masyarakat adat khusus suku Namblong pertama tahun 2026 di UOGP yang menyasar anak-anak muda masyarakat adat agar memiliki kapasitas pendidikan yang dapat mendukung pembangunan ekonomi adat.
"Kita tau Sarjana Ekonomi Pertanian,Kehutanan dan Kelautan Adat pertama di Indonesia dan mungkin hanya satu yang ada dan mungkin itu juga baru ,"ucapnya.
Ambrosius menjelaskan, pada tahap perekrutan pertama sebanyak 15 pemuda adat akan dipilih untuk mengikuti pendidikan melalui program beasiswa ini.
Menurutnya, program beasiswa saat ini berkaitan dengan Suku Namblong yang telah memiliki BUMMA dan sedang menjalankan aktivitas kelembagaan ekonomi adat.
Sementara itu, tiga suku lainnya, yakni Suku Mare, Kanum dan Knasamos, juga sedang membangun kemitraan bersama BUMMA dan diharapkan dapat mengikuti program serupa setelah BUMMA masing-masing berkembang.
Ia menegaskan, sasaran program tidak hanya pemuda yang telah bekerja di BUMMA, tetapi juga generasi muda yang dinilai memiliki potensi untuk bergabung dan mengembangkan usaha ekonomi masyarakat adat.
"Tujuannya untuk menyiapkan dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia mereka melalui pendidikan tinggi khusus," ujarnya.
Ia menjelaskan, program tersebut dirancang untuk mendukung pembangunan ekonomi adat sekaligus memperkuat peran BUMMA sebagai wadah pengelolaan potensi ekonomi masyarakat adat.
Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Universitas Ottow dan Geisler Papua, Triana Kubelaborbir, mengatakan pihak rektorat dan kampus mengapresiasi kerja sama dan kolaborasi dalam mendukung peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM)masyarakat adat.
"Kami sangat berterima kasih karena BUMMA bisa mengajak kami untuk melakukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dari masyarakat adat,"kata Triana.
Menurutnya,secara akademis sistem kuliah akan di lakukan melalui sistem daring dan luring di beberapa pertemuan nantinya akan dilakukan secara tatap muka.
"Sistem kuliah akan dilaksanakan secara online, akan tetapi nanti ada saat-saat tertentu yang harus kuliah offline,"ujarnya.
"Nanti program studi akan menyepakati bersama dengan mitra BUMMA. Kira-kira online itu berapa kali pertemuan dan offline berapa kali pertemuan,”terangnya.
Dekan Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan UOGP, Efraim Mangaluk, mengatakan perkuliahan perdana program tersebut akan dimulai pada 2026 dengan menerima 15 anak masyarakat adat.
"Secara teknis mereka akan mengikuti program perkuliahan reguler selama empat tahun. Seluruh pembiayaan, mulai dari biaya kuliah, SPP sampai komponen pembiayaan semester akan kami cover," kata Efraim.
Ia menegaskan, para peserta tetap harus mengikuti proses seleksi. Kesempatan diberikan kepada anak-anak masyarakat adat, namun mereka yang diterima harus memenuhi standar akademik yang telah ditetapkan UOGP.
"Harus ada standar kelulusan untuk kita terima di UOGP. Mereka harus memiliki keterampilan dasar seperti matematika, membaca dan menulis serta dasar-dasar akademik lainnya," jelasnya.
Efraim menambahkan, penerapan kurikulum juga diarahkan agar mahasiswa mampu mengembangkan kapasitas, talenta dan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat adat serta perkembangan zaman.
Menurutnya, program tersebut sejalan dengan cita-cita peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di Papua.
Ia mengungkapkan, program pendidikan khusus tersebut bukan gagasan yang baru disiapkan. UOGP telah merancangnya sejak tiga tahun lalu dan baru dapat diwujudkan pada 2026.
“Kami sangat siap karena ini adalah rencana kami tiga tahun lalu. Kami sudah siapkan, sudah rancang dan puji Tuhan bisa terwujud di tahun yang ketiga ini. Ini satu kabar gembira dan menjadi catatan sejarah kami,” tuturnya
Sementara itu Komisaris BUMMA PT Yombe Namblong Nggua Abrahan Yenatawa mengatakan masyarakat mengapresiasi penandatanganan kerja sama antara BUMMA dan pihak terkait.
Kerja sama antara Universitas Ottow Geissler Papua (UOGP) dan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) Namblong diharapkan tidak hanya membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda adat, tetapi juga melahirkan calon pemimpin BUMMA di masa depan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada UOGP dan pihak BUMMA yang telah membangun kerja sama tersebut. Menurutnya, pendidikan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda untuk melanjutkan pembangunan ekonomi masyarakat adat.
"Saya berharap ke depan anak-anak ini bisa dibimbing dengan baik, kemudian menjadi masa depan untuk BUMMA Namblong dan wilayah adat Namblong secara keseluruhan,"tutupnya(Epen)




0 Komentar