Nabire, Papua Terbit, - Workshop yang dimoderatori Roni Hisage ini diikuti pelajar, mahasiswa, dan para jurnalis dalam festival yang diinisiasi Asosiasi Wartawan Papua (AWP) periode 13-15 Januari 2026.
Pemimpin Umum PT Media Jubi Papua, Viktor Mambor, mengatakan bahwa jurnalis Papua seharusnya menjadi aktor utama dalam meliput potensi daerahnya sendiri, bukan tenggelam sebagai penonton.
"Jurnalis Papua jangan sebagai penonton,kita orang Papua ini pemain utama sebenarnya. Jadi jangan tenggelam dalam semangat, orang bilang 'harap gampang' begitu," ujar Mambor saat diwawancarai.
Terkait materi yang mdisampaikan workshop "Pitching yang Menjual: Cara Meyakinkan Sponsor Potensial" pada Festival Media Se-Tanah Papua di Kabupaten Nabire, Rabu (14/1/2026).
Ia mencontohkan bahwa Papua masuk tiga besar dalam hal potensi hutan, namun liputan-liputan tentang hutan justru tidak pernah dilakukan oleh anak Papua, melainkan didominasi media-media di luar Papua.
"Tadi saya sudah ceritakan Papua ini tiga besar. Tapi liputan-liputan tentang hutan tidak pernah anak Papua yang liput, hanya media-media di luar. Jadi kita punya potensi besar, bagaimana kamu memanfaatkan itu? Kita orang Papua itu harus jadi pemain di tanah sendiri, yang orang bilang jadi tuan di tanahnya sendiri. Itu poin yang paling penting," tegasnya.
Mambor berharap Festival Media Se-Tanah Papua terus berjalan untuk meningkatkan kapasitas jurnalis Papua.
"Harapan untuk Festival Media Se-Tanah Papua pastinya harus berjalan terus karena ini untuk kita anak-anak Papua, bukan orang lain. Karena kita anak Papua di tanah Papua, festival ini harus tetap berjalan supaya kita punya kapasitas meningkat," katanya.
Mambor menjelaskan prinsip "apple to apple" dalam meraih sponsor dan mencapai target jurnalistik yang berkualitas.
"Tadi saya sudah bilang juga apple to apple. Kalau kita mau dapat apple, kita harus apple. Kalau kita pancing untuk mau dapat ikan besar, ya umpan harus besar juga. Masa umpan ikan puri mau dapat ikan hiu? Tidak bisa," ujarnya dengan analogi sederhana.
Mambor mengkritik sikap "terlalu manja" dan semangat "harap gampang" yang masih ditemui di kalangan jurnalis Papua. Ia menekankan pentingnya solidaritas dan saling membantu di lapangan.
"Kita anak-anak Papua terlalu manja, mungkin karena semangat 'harap gampang'. Jadi kalau di lapangan itu, pertama kita harus kompak, kita harus saling tolong. Jangan saling jatuhkan ke jurang," tegasnya.
Ia mencontohkan, jika ada yang mau liputan sampai ke narasumber, harus saling membantu.
"Terus ada kejadian apa, saling tolong. Intinya saling tolong saja, terutama kita anak-anak Papua. Selebihnya, banyak berdoa," pungkasnya.
Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Media Se-Tanah Papua yang berlangsung 13-15 Januari 2026, dihadiri 149 jurnalis dari enam provinsi di Tanah Papua, dengan berbagai kegiatan termasuk pelatihan jurnalistik investigasi, talk show, pameran foto, dan malam penganugerahan Papua Jurnalistik Award 2026.(Epen)


0 Komentar