Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Papua, Gelar Musyawarah Komisariat ke-12

Jayapura,Papua Terbit,-Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Papua telah melaksanakan Musyawarah Komisariat ke-12, pada Senin (16/2/2026), bertempat di Ruang A Universitas Muhammadiyah Papua. 

Musyawarah ini mengangkat tema "Revitalisasi Spirit dan Militansi Kader dalam Mewujudkan Kepemimpinan yang Berkemajuan”. Makna dari tema ini yaitu upaya untuk menghidupkan kembali semangat dan keteguhan para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah agar mampu melahirkan pemimpin yang aktif, visioner, dan membawa perubahan positif sesuai nilai-nilai Islam.

Pembukaan kegiatan Musyawarah ini dihadiri oleh Tim Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), yakni Udin Ramazakir, S.Pd., S.I.Kom., M.Si., Dr. Tri Mulyadi, Dr. Mukhtar Syam, dan Irfun, M.Pd.

Turut hadir pula perwakilan organisasi otonom dan organisasi mahasiswa lainnya, di antaranya Hizbul Wathan UM Papua, HMI Komisariat STIE Port Numbay Jayapura, serta KAMMI Komisariat IAIN Fattahul Muluk Papua.

Musyawarah Komisariat (Musykom) ke-12 ini menjadi momentum penting dalam melanjutkan estafet kepemimpinan serta menentukan arah gerak Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Universitas Muhammadiyah Papua untuk satu periode ke depan.

Dalam sambutannya, Bidang AIK, Udin Ramazakir, menegaskan bahwa masa kepengurusan di tingkat komisariat hanya berlangsung selama satu tahun. 

“Pengurus IMM di komisariat itu hanya satu tahun. Periode 2026–2027 besok, kalian mendapatkan kepemimpinan yang luar biasa. Seluruh pemimpin di UM Papua dari masa ke masa itu luar biasa, hanya saja masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya mengikuti ritme kepemimpinan Universitas Muhammadiyah Papua yang cepat, tepat, dan disiplin. Menurutnya, budaya mengeluh bukanlah karakter yang dibangun di kampus ini. Ia secara tegas menyampaikan, 

“Di UM Papua tidak ada cerita mengeluh karena tidak ada dana lalu tidak bisa membuat kegiatan. Sampaikan saja programnya apa, kita pikirkan bersama. Yang penting mahasiswa harus punya motivasi dan semangat tinggi,” ungkapnya. 

Udin mengingatkan bahwa IMM harus berani menyusun program yang monumental meskipun sederhana. Ia mengibaratkan, daripada menargetkan sesuatu yang terlalu rendah, lebih baik berani ‘menghantam program tinggi’ meskipun capaian belum sepenuhnya maksimal. Baginya, waktu satu tahun atau 365 hari adalah waktu yang sangat singkat untuk berbuat, sehingga pengurus harus bergerak cepat dan progresif.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberadaan IMM di kampus adalah sebuah keniscayaan. 

“IMM itu wajib ada di kampus dan wajib dibina. Karena kalian adalah sumber utama perkaderan ke depan. Tidak bisa UM Papua tanpa IMM,” tegasnya.

Ia juga mengajak IMM untuk menjadi ujung tombak dalam mendukung ekspansi kampus ke Holtekam sebagai bagian dari penguatan lini bawah mahasiswa.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Tim AIK siap menjadi mitra strategis dalam menyukseskan program-program komisariat. 

“Tim AIK itu besar dan solid, pengalamannya banyak dan kompetensinya tersebar. Kalau bikin program, sampaikan saja. Kita sharing bersama. Bikin yang simpel tapi menakjubkan,” ungkapnya. 

Menutup sambutannya, Udin berpesan agar kader tetap solid dan menjaga budaya “dengar-dengaran”.

“Di Papua itu kalau orang dengar-dengaran, dia akan mendapatkan tanda baik kepada tanda baik yang lain. Dalam Al-Qur’an disebutkan, 

'La in zakartum la azidanakum wala in kafartum inna azabi la syain.’ Kalau bersyukur, Allah akan tambah nikmatnya,” tuturnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Tri Mulyadi, menekankan bahwa revitalisasi spirit berarti melahirkan kembali semangat yang kadang naik dan turun dalam diri kader. Ia menyampaikan bahwa semangat harus terus ditumbuhkan karena tanpa spirit dan militansi, kepemimpinan berkemajuan tidak akan terwujud secara menyeluruh. Menurutnya, militansi kader harus diarahkan sepenuhnya untuk Muhammadiyah dan IMM, bukan kepada organisasi lain di luar persyarikatan.

“Kalau kita tidak mempunyai semangat dan tidak mau militan, maka kepemimpinan itu tidak bisa terwujud,” tegasnya. 

Ia juga mengingatkan agar dalam menyusun program kerja tidak terlalu muluk-muluk, tetapi realistis dan terukur agar dapat tercapai secara optimal.

Tri Mulyadi mencontohkan dalam bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, kader dapat menargetkan hafalan Juz Amma atau beberapa surah secara bertahap, daripada langsung menargetkan hafalan 30 juz yang sulit diwujudkan. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah menekankan kajian dan pemahaman Al-Qur’an secara mendalam melalui berbagai disiplin ilmu, bukan sekadar hafalan. Secara tidak langsung ia mengingatkan bahwa kualitas kader terletak pada kemampuan memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Umum PC IMM Kota Jayapura, Aziz, dalam sambutannya menegaskan bahwa regenerasi kepemimpinan IMM di Komisariat UM Papua menjadi bukti nyata bahwa eksistensi dan militansi kader tetap terjaga.

Ia menyebut bahwa proses Musykom bukan sekadar pergantian struktural, tetapi simbol keberlanjutan gerakan.

"Dengan berjalannya regenerasi kepemimpinan IMM pada Komisariat UM Papua ini, menjadi fakta bahwa api kobaran semangat Merah Maron di Papua masih membara dan tak pernah padam,” tegasnya.

Aziz juga menyampaikan harapannya kepada pemimpin yang akan terpilih agar mampu menjaga soliditas internal serta menghadirkan inovasi dalam gerakan organisasi.

"Harapan saya sebagai Ketua Umum PC IMM Kota Jayapura, kepada pemimpin yang akan terpilih nanti pada Musykom ini, teruslah jalin kekompakan dan kreativitas. Buatlah program-program kerja yang bersinergi dengan visi misi universitas serta memberikan manfaat, baik bagi internal maupun eksternal IMM,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Pimpinan Cabang akan terus memberikan dukungan penuh demi keberlangsungan gerakan IMM di Tanah Papua.

"PC IMM Kota Jayapura mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan akan selalu mendukung penuh setiap langkah demi kebaikan serta keberlangsungan IMM di Tanah Papua,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PK IMM UM Papua Periode 2025–2026, Nurul Husnul, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus.

"Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Badan Pengurus Harian PK IMM UM Papua yang telah bekerja sama dari awal periode hingga saat ini. Alhamdulillah, amanah yang diberikan dapat kita pertanggung jawabkan bersama,” ujarnya. 

Ia menegaskan bahwa Musyawarah Komisariat merupakan bagian dari melanjutkan estafet perjuangan yang diwariskan oleh Ahmad Dahlan dalam semangat tajdid dan pembaruan.

“Kegiatan musyawarah ini bukan hanya agenda rutin, tetapi bagian dari melanjutkan perjuangan. IMM harus senantiasa bergerak progresif, kritis, dan solutif terhadap persoalan umat dan bangsa,” tegasnya.

Menurutnya, Musykom harus menjadi ruang dialektika yang sehat.

“Hari ini harus kita maknai sebagai ruang dialektika yang sehat, penuh gagasan, serta dilandasi akhlakul karimah,” ungkapnya.

Ia berharap forum ini mampu melahirkan pemimpin baru yang amanah dan bertanggung jawab. 

“Semoga kita bisa mendapatkan nakhoda kapal yang baru, yang mampu memimpin dan amanah terhadap tanggung jawabnya,” harapnya.

Di akhir sambutannya, Nurul Husnul berpesan agar seluruh kader menerima apa pun hasil keputusan forum dengan sikap dewasa.

“Apa pun hasil forum nantinya, semoga kita semua dapat menerimanya dengan lapang dada, legawa, dan ikhlas. Setiap amanah adalah bentuk kepercayaan. Ketika amanah itu sampai kepada kita, yakinlah bahwa Allah mengetahui kita mampu menjalankannya dengan sebaik-baiknya,” tutupnya(R)edaksi

Posting Komentar

0 Komentar