Jayapura, Papua Terbit,-Kabupaten Jayapura merupakan salah satu daerah penting di Tanah Papua dengan pusat pemerintahan berada di Sentani. Daerah ini memiliki perjalanan sejarah panjang yang tidak terlepas dari dinamika pembangunan dan pemekaran wilayah di Papua.
Perjalanan panjang daerah ini bermula dari lahirnya dasar hukum pembentukan wilayah administratif melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Provinsi Otonom Irian Barat.
Melalui regulasi tersebut Kabupaten Jayapura kala itu terbagi dalam enam Kepala Pemerintahan Setempat atau KPS, yakni KPS Jayapura, KPS Dobonsolo, KPS Nimboran, KPS Sarmi, KPS Keerom, dan KPS Mamberamo.
Para Bupati yang meletakkan fondasi bagi kemajuan Kabupaten Jayapura.
Dimulai oleh Anuwar Ilmar pada periode 1967–1975 yang membuka akses jalan Doyo–Borowai–Nimboran. Menyiapkan kapal Matoa untuk masyarakat Nimboran dan sekitarnya jalur Borowai - Yoka Pulang Pergi, sebelum terbangunnya jalan Doyo – Borowai. Juga sebagai pendiri Yayasan Pendidikan Islam Pertama di kabupaten Jayapura pada tanggal 15 Desember 1968.
Pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Thontje Meset pada periode 1975–1981 melalui program transmigrasi mendorong pertumbuhan ekonomi dan masyarakat.
Selanjutnya, kepemimpinan Barnabas Youwe periode 1981–1991 menjadi tonggak terbentuknya Kota Jayapura sebagai daerah administratif tersendiri.
Perjalanan dilanjutkan oleh Bupati Yan Pieter Karafir pada periode 1991–2001 yang membawa perubahan melalui pemekaran wilayah menjadi Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Keerom, serta memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Jayapura ke Sentani sebagai cikal bakal Ibu Kota Kabupaten Jayapura.
Kemudian Habel Melkias Suwae - Tunggul Simbolon, Zadrak Wamebu periode 2001–2011, berbagai pembangunan strategis dilakukan. Ia dikenal sebagai Bapak Pemberdayaan Masyarakat, sekaligus membawa kejayaan sepak bola daerah klub Persidafon Dafonsoro. Pada masa ini pula dibangun sejumlah fasilitas penting seperti Stadion Barnabas Youwe, GOR Toware, Pengembangan Pelabuhan Depapre. RSUD Yowari Kabupaten Jayapura, Ia juga sebagai pencetus FDS Tahun 2007 - 2008 dengan menetapkan Pantai Kalkote Distrik Sentani Timur sebagai tempat pelaksanaannya hingga saat ini. Juga mencanangkan Gerakan Wajib Tanam Kakao (GWTK).
Pembangunan sosial budaya kemudian diperkuat pada masa kepemimpinan Mathius Awoitauw-Robert Djoenso, Giri Wijayantoro periode 2012–2022 dengan lahirnya kebijakan pengakuan dan pembentukan 14 kampung adat sebagai bagian dari upaya melestarikan nilai budaya dan memperkuat identitas masyarakat adat di Kabupaten Jayapura.
Kini, tongkat estafet kepemimpinan Bupati Jayapura dan Wakil Bupati Jayapura berada di tangan Yunus Dr. Yunus Wonda, SH.MH., dan Haris Richard Yocku,SH., untuk periode 2025–2030. Dengan semangat “Kasih Mempersatukan Perbedaan”, Kabupaten Jayapura terus melangkah maju, membangun persatuan, memperkuat pembangunan, dan menata masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakatnya.
Dari perjalanan sejarah panjang itu, Kabupaten Jayapura bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah rumah bagi beragam budaya. Harapan dan semangat yang terus bergerak maju, menjaga warisan masa lalu sambil menatap masa depan. Kabupaten Jayapura disebut - sebut sebagai salah satu Kabupaten tertua dan Kabupaten induk di Tanah Papua.
Kini Kabupaten Jayapura genap berusia 57 Tahun pada 10 Maret 2026, diusianya yang setengah abad lebih itu diharapkan Kabupaten Jayapura dapat mandiri dan berdaya saing. Kabupaten Jayapura masih menyisakan satu tanggung jawab besar yakni bagaimana wilayah administrasinya dipetakan secara legal atau memiliki dasar hukum yang pasti, terutama wilayah tapal batas antara Kabupaten maupun Provinsi. ( DD )

0 Komentar