Himbauan

Himbauan
Mengibarkan Bendera Merah Putih

Dari Papua untuk Papua: Ruma Kombucha Ajak Warga Pilih Produk Lokal Demi Hidup Sehat

 


Jayapura, Papua Terbit, -CEO RUMA Kombucha Papua Dian Lestari menyampaikan, kebahagiaannya atas kehadiran dalam kegiatan perayaan menjelang 17 Agustus yang diselenggarakan bersama BPOM Jayapura. 

Kegiatan tersebut turut menghadirkan bazar UMKM, pelayanan kesehatan gratis, donor darah, serta berbagai aktivitas yang mengajak masyarakat untuk semakin peduli terhadap kesehatan.

Founder dan CEO Kombucha RUMA PAPUA, Dian Lestari, mengatakan bahwa momentum kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada sebuah perayaan, tetapi menjadi pengingat bahwa masyarakat Papua memiliki kekuatan untuk membangun kemandirian melalui pilihan yang dibuat setiap hari—termasuk dalam memilih produk yang sehat, berkualitas, aman, dan berasal dari kekayaan daerah sendiri.

“Kami percaya masyarakat Papua harus semakin cerdas dalam memilih apa yang dikonsumsi. Kemerdekaan bagi kami juga berarti memiliki keberanian untuk percaya pada potensi daerah sendiri, mengolahnya dengan standar yang baik, lalu menjadikannya produk yang bisa dibanggakan. Produk dari Papua harus mampu berdiri sejajar dengan produk-produk terbaik dari daerah lain di Indonesia,”ujar Dian.

Menurutnya, membangun masyarakat Papua yang sehat membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Olahraga dan aktivitas fisik merupakan bagian penting, tetapi kesehatan juga sangat ditentukan oleh keputusan sederhana yang dilakukan berulang kali, terutama mengenai makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari.

“Hidup sehat tidak cukup hanya dengan berolahraga. Kita juga perlu memiliki kesadaran terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Apa yang kita makan dan minum setiap hari pada akhirnya akan menjadi bagian dari kualitas hidup kita di masa depan,” katanya.

Melalui Kombucha RUMA PAPUA, Dian bersama timnya terus berupaya menghadirkan alternatif minuman fermentasi berbasis teh yang dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai bahan lokal Papua dan Indonesia.

Berbagai kekayaan lokal seperti **sarang semut Papua, pinang, kelapa, nanas, kopi Papua, rempah, bunga, serta berbagai bahan alami lainnya** diolah dan dikembangkan menjadi varian kombucha yang memiliki karakter serta identitas tersendiri.

Bagi RUMA, pemanfaatan bahan lokal bukan sekadar menciptakan rasa yang berbeda. Setiap bahan membawa identitas, cerita, serta potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan.

“Kami tidak ingin bahan lokal Papua hanya dikenal sebagai bahan mentah. Kami ingin memberikan nilai tambah. Bahan-bahan tersebut harus bisa diolah menjadi produk yang modern, berkualitas, memiliki standar, dan mampu diterima oleh konsumen yang lebih luas. Di situlah kami ingin RUMA mengambil peran,” tegas Dian.

Ia menambahkan bahwa Papua memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan sangat banyak potensi yang belum mendapatkan panggung yang cukup besar.

“Produk lokal Papua tidak kalah dengan produk nasional. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk meningkatkan kualitas, konsistensi, inovasi, dan memperluas pasar. Ketika produk Papua memiliki standar yang baik, kami percaya produk tersebut tidak hanya bisa menjadi tuan rumah di tanah sendiri, tetapi juga dapat diterima di luar Papua, bahkan menuju pasar yang lebih luas,"katanya.

Perjalanan Kombucha RUMA PAPUA sendiri menunjukkan perkembangan tersebut. Berawal dari Jayapura, produk RUMA kini telah menjangkau konsumen melalui jaringan retail dan distribusi di berbagai wilayah Papua, antara lain. Jayapura, Timika, Manokwari, Sorong, Wamena, Biak, Nabire, Merauke, dan Sarmi.

Jangkauan RUMA juga mulai berkembang di luar Papua. Produk Kombucha RUMA PAPUA telah hadir di sejumlah jaringan retail di. Bali termasuk kawasan Denpasar, Kuta, Sanur, dan Ubud, serta terus melakukan pengembangan pasar di. Jakarta dan wilayah Jabodetabek.

RUMA juga pernah memperkenalkan produknya hingga. Vanimo, Papua Nugini, sebagai bagian dari langkah membuka peluang pasar lintas batas.

Dengan perjalanan tersebut, RUMA ingin membuktikan bahwa sebuah produk yang lahir dari Papua memiliki peluang untuk tumbuh menjadi brand yang dikenal semakin luas tanpa kehilangan akar dan identitas asalnya.

“Kami ingin ketika orang melihat RUMA, mereka tidak hanya melihat sebuah botol kombucha. Mereka melihat Papua. Mereka melihat kekayaan alamnya, kreativitas masyarakatnya, petaninya, dan kemampuan anak-anak Papua untuk menghasilkan produk berkualitas,”ucap Dian.

Ia juga menekankan bahwa keputusan konsumen untuk membeli produk lokal memiliki dampak ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar transaksi.Ketika bahan baku diperoleh dari petani dan pemasok lokal, kemudian diproses oleh tenaga kerja lokal dan dipasarkan oleh pelaku usaha daerah, maka nilai ekonomi tersebut dapat berputar kembali di masyarakat.

“Satu keputusan sederhana untuk membeli produk lokal bisa menciptakan rantai dampak yang panjang. Ada petani yang mendapatkan pasar, ada tenaga kerja yang mendapatkan penghasilan, ada UMKM yang tumbuh, dan ada ekonomi daerah yang terus bergerak. Inilah sirkular ekonomi yang ingin kami bangun bersama,” jelasnya.

Karena itu, RUMA ingin terus menjadi bagian dari gerakan yang menghubungkan kesehatan, kekayaan alam Papua, pemberdayaan masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi lokal. Bagi Dian, keberhasilan RUMA tidak hanya akan diukur dari seberapa banyak produk yang terjual, tetapi dari seberapa besar produk tersebut dapat memberikan nilai bagi masyarakat dan daerah tempat RUMA dilahirkan. 

“Kami ingin bertumbuh bersama Papua. Semakin besar RUMA, semakin besar pula manfaat yang harus bisa kami kembalikan kepada masyarakat, petani, tenaga kerja, dan ekosistem lokal,"tuturnya.

Ia menutup dengan sebuah pesan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari keputusan-keputusan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

“Hidup lebih sehat, mencintai bahan lokal, dan membangun ekonomi Papua bisa dimulai dari apa yang kita pilih setiap hari. Mari bangga memilih produk yang lahir dari tanah kita sendiri. Dari Papua, bertumbuh bersama Papua, dan membawa kebaikan Papua untuk Indonesia.” pungkas nya.(Alex)

Posting Komentar

0 Komentar