Jayapura, Papua Terbit,-Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Daerah Jayapura memperingati Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara (HKMAN) 17/3/2026 yang ke-27 dengan semangat kebersamaan dan persatuan. Momen bersejarah ini ditandai dengan kunjungan istimewa Ketua Pengurus Daerah (PD) AMAN Jayapura, Benhur Yudha Wally, ke Paguyuban Nusantara di Waena, Kota Jayapura, pada 16 Maret 2026. Dalam suasana penuh kekeluargaan, acara berbagi kasih ini diselenggarakan bertepatan dengan buka puasa bersama, sebuah simbol kuat akan toleransi dan kerukunan antar umat beragama.
HKMAN ke-27 tahun ini menjadi tonggak penting yang menegaskan kembali posisi sentral masyarakat adat sebagai salah satu pilar utama dalam menentukan arah demokrasi dan keberadaan negara Indonesia. Perayaan ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan sebuah refleksi atas perjalanan panjang perjuangan masyarakat adat dalam mendapatkan pengakuan dan penghormatan atas hak-hak mereka.
Kedatangan Benhur Yudha Wally, yang juga merupakan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua utusan masyarakat adat, disambut hangat oleh anggota Paguyuban Nusantara. Mereka, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan kini menetap di Kota Jayapura, menyampaikan apresiasi mendalam atas kunjungan tersebut. Ini menunjukkan adanya jembatan silaturahmi yang kuat antara masyarakat adat lokal dan para perantau yang juga memiliki akar budaya adat yang kaya.
Dalam sambutannya di hadapan anggota Paguyuban Nusantara yang beragama Muslim, Benny Wally menyampaikan pesan yang menginspirasi. Ia menekankan bahwa Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara adalah momentum untuk bersatu, melampaui segala perbedaan suku, ras, maupun agama. "Tidak ada perbedaan dari segi manapun, baik suku, Ras, Agama, kita merupakan Masyarakat adat yang memiliki kesatuan yang tak bisa di pecah-pecahkan," ujarnya. "Kita perlu hidup saling berdampingan, saling menghargai dan menghormati satu sama yang lain."
Benny Wally juga menegaskan bahwa meskipun saudara-saudara anggota Paguyuban Nusantara datang dari berbagai daerah, dalam konteks masyarakat adat, kita semua adalah satu jiwa dan satu raga. Perjuangan kita pun sama: agar dihargai dan dihormati di dalam negara. Penutup sambutannya menggema harapan besar bagi seluruh komunitas adat di Indonesia: "Kita semua berjuang, supaya RUU Masyarakat Adat disahkan oleh negara." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi pengesahan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat sebagai langkah konkret menuju perlindungan dan pemberdayaan hak-hak mereka secara hukum.
Acara buka puasa bersama dan berbagi kasih ini tidak hanya mempererat tali persaudaraan, tetapi juga mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman, serta terus menyuarakan aspirasi masyarakat adat untuk mendapatkan pengakuan yang layak di tanah air mereka. HKMAN ke-27 menjadi pengingat bahwa kebangkitan masyarakat adat adalah kebangkitan bangsa, demi Indonesia yang lebih adil dan beradab(DD)

0 Komentar