![]() |
| Foto istimewa : Anggota Komisi II DPR Papua, Johanes Markus Wakum, saat meninjau korban ledakan bom diduga peninggalan PD II di Biak, sesaat setelah kejadian berlangsung pada Minggu (31/5/2026) |
Jayapura,Papua Terbit,-Anggota Komisi II DPR Papua, Johanes Markus Wakum, menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa ledakan bom yang diduga merupakan peninggalan Perang Dunia II di Kabupaten Biak Numfor pada Minggu (31/5), yang mengakibatkan lima orang meninggal dunia.
Dalam kunjungan tersebut, Johanes Wakum didampingi aparat kepolisian serta berkoordinasi dengan berbagai pihak yang tengah melakukan penanganan dan investigasi di lokasi kejadian.
Selain meninjau area terdampak, Johanes juga mengunjungi Posko Basarnas untuk memperoleh informasi terkait perkembangan penanganan serta langkah-langkah yang telah dilakukan oleh tim gabungan Johanes melanjutkan kunjungan ke RSUD Biak untuk melihat secara langsung kondisi para korban yang masih menjalani perawatan medis.
Ia memberikan dukungan moril kepada korban dan keluarga serta berharap seluruh korban dapat segera pulih.
"Kehadiran kami di sini merupakan bentuk empati dan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak. Kami berharap seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang maksimal serta pendampingan yang baik selama masa pemulihan," ujar Johanes, Minggu (7/6/2026)
Ia juga mengapresiasi kerja cepat aparat keamanan, tenaga kesehatan, Basarnas, dan seluruh pihak yang telah bergerak cepat menangani dampak dari peristiwa tersebut.
Menurut Johanes, berbagai langkah yang dilakukan pemerintah bersama tim investigasi dan satuan tugas yang dibentuk sudah berjalan cukup baik, mulai dari proses investigasi, penjinakan bahan peledak yang ditemukan di lokasi, hingga pencarian korban. "Proses yang sudah berjalan saya nilai cukup baik. Penanganan bahan peledak, penjinakan bom, hingga pencarian korban telah dilakukan secara maksimal oleh tim yang bertugas," katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat, khususnya di Biak yang merupakan salah satu wilayah dengan sejarah Perang Dunia II dan masih berpotensi menyimpan berbagai peninggalan berbahaya. "Biak merupakan salah satu lokasi Perang Dunia Kedua. Karena itu masih ada kemungkinan ditemukan peninggalan perang yang berisiko bagi keselamatan masyarakat," ujarnya.
Johanes juga meminta pemerintah daerah untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya peninggalan perang dan tata cara pelaporan apabila menemukan benda mencurigakan. Selain itu, ia meminta instansi terkait untuk melakukan pendataan dan deteksi dini terhadap lokasi-lokasi yang diduga masih menyimpan peninggalan Perang Dunia II guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. "Pemerintah harus membuat langkah preventif dan mitigasi yang lebih kuat, terutama di wilayah-wilayah yang pernah menjadi lokasi pertempuran pada masa Perang Dunia II. Ini penting untuk mencegah risiko yang dapat membahayakan masyarakat," tegasnya.
Johanes juga meminta perhatian serius dari pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat terhadap para korban dan keluarga yang terdampak. Menurutnya, sebagian besar korban merupakan nelayan yang menggantungkan hidup dari aktivitas melaut. "Korban yang terdampak dalam peristiwa ini sebagian besar adalah nelayan. Karena itu pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pusat perlu hadir memberikan perhatian khusus, baik dalam bentuk bantuan, pendampingan, maupun pelatihan yang dapat membantu mereka melanjutkan kehidupan setelah peristiwa ini," ujarnya.
Melalui fungsi pengawasan DPR Papua, Johanes memastikan pihaknya akan terus memantau perkembangan penanganan pasca-ledakan guna memastikan seluruh korban memperoleh perhatian yang layak dan proses pemulihan berjalan optimal. "Kita semua berharap peristiwa ini menjadi perhatian bersama agar langkah-langkah pencegahan dan mitigasi dapat semakin diperkuat demi keselamatan masyarakat di masa mendatang," pungkasnya. (Redaksi)

0 Komentar