Universitas Muhammadiyah Gelar Kajian Ramadhan dan Buka Bersama Sekaligus Melaunching Wakaf Timbunan Masjid dan Gedung Kuliah

 


Jayapura,Papua Terbit,-Universitas Muhammadiyah melalui Bidang AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) melaksanakan Kajian Ramadhan dan Buka Bersama, bertajuk Tadabbur Al-Qur'an: "Mengokohkan Spirit Dakwah di Amal Usaha Sebagai Aplikasi Kader Persyarikatan" sekaligus melaunching wakaf timbunan masjid dan gedung kuliah UM Papua, pada Jumat (27/2/2026), bertempat di ruang A UM Papua. 

Kajian ini diawali dengan penyampaian motivasi sekaligus launching program wakaf timbunan pembangunan masjid dan gedung perkuliahan UM Papua di kawasan Holtekam oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Papua, Dr. Rustamadji, M.Si.

Dalam sambutannya melalui via zoom,  Rustamadji menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Pertama, saya mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya pengajian pada sore hari ini. Insya Allah ini memberikan manfaat bagi kita semua,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada ustaz yang mengisi kajian.

“Saya juga menyampaikan terima kasih kepada ustaz yang mengisi pengajian pada sore hari ini. Insya Allah semuanya menyimak dengan baik dan yang palingan penting adalah melihat serta melaksanakan apa yang telah disampaikan,” tambahnya.

Rektor menegaskan bahwa pengajian merupakan amal usaha pertama Muhammadiyah dan memiliki posisi yang sangat strategis dalam gerakan persyarikatan.

“Pengajian bagi Muhammadiyah merupakan amal usaha yang pertama kali. Jadi kalau kita berkumpul, apalagi belum sering bertemu secara fisik, maka amal usaha dalam bentuk pengajian ini sangat strategis,” tegasnya.

Menurutnya, pengajian menjadi ruang untuk mengisi ruh seluruh elemen Amal Usaha Muhammadiyah.

“Karena pengajian mengisi ruh seluruh hamba yang ada di Amal Usaha Muhammadiyah. Ruhnya diisi, jiwanya diisi, sehingga perjuangan baik di amal usaha maupun di persyarikatan mempunyai ruh,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa melalui pengajian ini diharapkan terbangun hubungan yang harmonis antara universitas, Badan Pimpinan  Harian (BPH), dan persyarikatan di berbagai tingkatan. 

Ia menambahkan bahwa hasil penelitian Majelis Pengembangan menunjukkan kekompakan, keharmonisan dan semangat antara universitas, BPH, dan PWM menjadi faktor utama kemajuan perguruan tinggi.

“Jika tidak kompak, akan sulit untuk maju. Karena itu, kita harus menuju ke arah tersebut. Saya sering mengatakan pantang kita mengatakan tidak. Katakan saja iya, jangan membuang waktu terlalu lama” katanya.

Dalam arahannya,  Rustamadji juga menyinggung budaya diskusi di lingkungan persyarikatan

“Kalau kita berkumpul, biasanya ada tiga hal yang didiskusikan. Pertama, membicarakan orang. Kedua, membicarakan kejadian. Ketiga, membicarakan gagasan,” ujarnya.

Ia kemudian menekankan pentingnya melahirkan ide-ide besar.

“Jika kita hanya membicarakan orang, kita menjadi picik. Jika membicarakan kejadian, kita menjadi biasa-biasa saja. Tetapi jika kita membicarakan gagasan-gagasan cemerlang dan segera melaksanakannya, kita akan menjadi orang-orang hebat", tambahnya.

Rektor turut menyampaikan refleksi tentang perjuangan dan ikhtiar.

“Tugas kita adalah menyempurnakan ikhtiar. Jika kita sudah menyempurnakan ikhtiar, Allah tidak akan membuat kita gagal. Manusia gagal bukan karena takdir, tetapi karena berhenti berusaha,” tuturnya.

Terkait pembangunan masjid dan gedung kuliah di Holtekam, ia menyampaikan rencana dimulainya pembangunan sekitar April hingga Juni oleh ketua proyek dari AFC. Ia juga mengusulkan agar akses jalan menuju kampus diberi nama Jalan Ahmad Dahlan sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan.

Dalam peluncuran Program Wakaf Timbunan, Rektor menjelaskan target yang ingin dicapai sebesar Rp 1,5 miliar dengan skema 10.000 rit, di mana satu rit senilai Rp 150.000.

“Program wakaf ini, targetnya 1,5 miliar. Nanti bisa dirilis untuk semua umat, tidak hanya Muhammadiyah,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun optimisme dalam gerakan.

“Jangan dilandasi keluhan, tetapi program yang hebat. Jika kita aktif dan menunjukkan program serta semangat, insya Allah banyak yang akan membantu,” ungkapnya.

Mengakhiri sambutannya, Rustamadji secara resmi melaunching program wakaf tersebut.

“Dengan mengucapkan basmalah, program timbunan wakaf masjid dan gedung kuliah, 10.000 rit, 1 rit Rp150.000, secara resmi kita buka bersama,” tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris BPH UM Papua, Untung Muhdiarto, menegaskan melalui sambutan, pentingnya kajian sebagai bagian dari proses berorganisasi.

“Kajian ini adalah bagian penting dalam proses berorganisasi untuk mengembangkan ideologi persyarikatan dan mempererat ukhuwah, serta melaksanakan aktivitas sesuai dengan bidang tugas masing-masing,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan kembali pesan yang kerap disampaikan Rektor dalam berbagai forum, baik di lingkungan kampus maupun pertemuan yang lebih luas. Menurutnya, Rektor selalu menekankan pentingnya persatuan dan kolaborasi dalam gerakan.

“Pak Rektor selalu menyampaikan kepada kita untuk bersatu, berkolaborasi, bersinergi, serta saling memberikan energi positif. Sesuai dengan filosofi persyarikatan, yaitu Islam yang berkemajuan,” tuturya.

Untung menambahkan bahwa pengajian rutin memiliki nilai strategis dalam membentuk karakter kader. Ia mengaku telah memiliki banyak catatan dari kajian-kajian sebelumnya.

“Dulu kita pernah membahas tafsir hingga beberapa jilid, meskipun tidak pernah selesai karena keterbatasan waktu,” kenangnya.

Dalam refleksinya, ia menjelaskan tentang tiga potensi utama dalam diri manusia, yaitu akal, hawa nafsu, dan qalbu.

“Manusia memiliki tiga potensi yang sangat penting. Pertama, potensi akal atau otak untuk berpikir. Kedua, potensi penggerak yang berasal dari hawa nafsu. Dua potensi ini sangat dominan dalam diri manusia,” jelasnya.

Namun, ia menekankan bahwa terdapat potensi ketiga yang menjadi penuntun.

“Ada potensi ketiga, yaitu potensi qalbu atau hati. Potensi inilah yang menjadi penuntun agar akal dan hawa nafsu tidak liar dan dapat dikendalikan,” tambahnya.

Ia pun mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan pengajian sebagai momentum pengendalian diri.

“Melalui pengajian yang akan disampaikan oleh Ustaz Merza, saatnya kita mengendalikan potensi akal dan hawa nafsu,” ajaknya.

Mengakhiri sambutannya, Untung menyampaikan pesan reflektif tentang pentingnya menghadiri majelis ilmu.

“Ada satu pesan yang sangat baik: pertemuan yang paling Anda sesali adalah pertemuan yang tidak Anda hadiri. Oleh Karena itu, setiap pertemuan yang baik hendaknya kita hormati dengan menghadirinya,” pesannya.

Ia juga menambahkan bahwa menghadiri undangan dan majelis ilmu merupakan bagian dari perilaku baik yang membawa keberkahan.

“Yang tidak tersenyum bisa menjadi tersenyum, dan pahalanya pun banyak,” tutupnya.

Setelah penyampaian sambutan-sambutan kegiatan dilanjutkan dengan materi kajian oleh Ustad Merza Edy yang juga merupakan Ketua BAZNAS Provinsi Papua. 

Dalam penyampaian materi kajian, Ustaz Edy mengawali dengan mengajak seluruh peserta untuk senantiasa bersyukur atas kesempatan menghadiri majelis ilmu.

“Yang pertama, mari kita wajib bersyukur atas kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk berkumpul dalam majelis yang sangat mulia ini. Ketika ada orang berkumpul untuk mencari ilmu agama, maka Allah akan menurunkan malaikat yang membentangkan sayap-sayapnya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam hadis Rasulullah disebutkan para malaikat membentangkan sayapnya hingga tidak terlihat ujungnya sebagai bentuk penghormatan kepada para penuntut ilmu. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti kemuliaan majelis ilmu dan karunia besar dari Allah SWT.

Ustaz Edy juga menyampaikan rasa hormat dan syukurnya karena diberi kesempatan menyampaikan materi di hadapan para pimpinan dan dosen Universitas Muhammadiyah Papua.

“Ini sebuah kehormatan besar bagi saya bisa berdiri di hadapan bapak dan ibu sekalian. Mudah-mudahan ini menjadi kebaikan untuk kita semua,” tuturnya.

Dalam kajian bertema Tadabbur Al-Qur’an: Mengokohkan Spirit Dakwah di Amal Usaha Sebagai Aplikasi Kader Persyarikatan, ia mengulas tafsir Al-Qur'an Surah Surah Ali Imran ayat 110–111 tentang konsep khaira ummah (umat terbaik).

Ia membacakan penggalan ayat, “Kuntum khaira ummah ukhrijat linnas…,” lalu menjelaskan bahwa umat Islam disebut sebagai umat terbaik karena tiga karakter utama, yaitu amar ma’ruf, nahi munkar, dan beriman kepada Allah.

“Kenapa umat Islam disebut khaira ummah? Karena bertauhid. Sebagus apa pun kualitas dunia kita, setinggi apa pun jabatan dan gelar kita, kalau tidak bertauhid, tidak akan menjadi ‘khaira’,” tegasnya.

Menurutnya, Islam menjadi syarat utama diterimanya amal sebagai amal saleh. Ia menekankan bahwa kebaikan yang tidak dilandasi iman tidak bernilai sebagai amal saleh di sisi Allah SWT.

Lebih lanjut, Ustaz Edy mengaitkan konsep tersebut dengan gerakan Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan secara kolektif.

“Kenapa disebut gerakan? Karena dilakukan bersama-sama, tidak sendiri-sendiri. Seperti pohon yang kuat akarnya, menjulang batangnya, bercabang, berdaun, dan berbuah. Semua memiliki fungsi dan harus berjalan bersama,” jelasnya.

Ia juga menyinggung makna persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan. Mengutip lanjutan ayat, ia menyampaikan bahwa upaya orang-orang yang memusuhi Islam tidak akan membahayakan kaum beriman kecuali gangguan kecil.

“Allah sudah menegaskan, ‘lan yadurrukum illa adza…’ sekali-kali mereka tidak akan membahayakan kalian kecuali gangguan kecil saja. Artinya, jika kita kokoh dalam iman dan persatuan, maka upaya apa pun untuk melemahkan dakwah tidak akan berhasil,” ungkapnya.

Dalam penjelasannya, ia menerangkan bahwa sebagian besar Ahli Kitab yang menolak kerasulan Nabi Muhammad SAW disebut sebagai golongan fasik karena menolak kebenaran yang telah diketahui. Namun, ia juga menegaskan bahwa selalu ada sebagian kecil yang beriman.

Menutup kajiannya, Ustaz Edy mengajak seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Papua untuk menjadikan iman, persatuan, dan gerakan amar ma’ruf nahi munkar sebagai spirit dalam memajukan amal usaha persyarikatan.(Redaksi)

Posting Komentar

0 Komentar