Sentani, Papua Terbit,– Suasana hangat dan penuh kebersamaan menyelimuti lokasi acara di Kehirang, Kabupaten Jayapura sore hingga malam ini. Keluarga besar Tungku Flores Timur Kabupaten Jayapura sukses menggelar acara akbar yang menggabungkan dua momentum suci sekaligus: Halal Bihalal dalam perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah dan perayaan Paskah. Mengusung tema besar “Merajut Silaturahmi, Mewujudkan Kerukunan, dan Mempererat Tali Persaudaraan”, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa di bumi Kenambai Umbai, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekuatan pemersatu.
Lebih dari Sekadar Tradisi, Ini Komitmen Bersama
Dalam laporannya selaku Ketua Panitia, Fransiskus Liko Sogen, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan seremonial belaka, melainkan berlandaskan aturan dan kesepakatan bersama. “Acara ini disusun berdasarkan program kerja, hasil rapat tanggal 15 Februari 2026, serta Surat Keputusan Nomor 001/SKEP/KK FLOTIM/KABUPATEN JAYAPURA/3/2026,” ujarnya.
Fransiskus menambahkan, tujuan utama pertemuan ini sederhana namun mulia: mempererat persaudaraan sesama perantau asal Flores Timur, saling memaafkan, dan menjaga api kerukunan antarumat beragama tetap menyala terang.
Apresiasi Tinggi untuk Semangat "Tungku"
Ketua Tungku Flores Timur Kabupaten Jayapura, Yohanes Don Bosco Dowo Badin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia. “Kalian bekerja dengan semangat luar biasa, rasa persaudaraan, dan tanggung jawab tinggi. Melibatkan seluruh elemen ‘Tungku’ menegaskan bahwa kita diajak untuk membuka hati,” katanya bangga.
Ia pun mengajak seluruh warga untuk meneladani semangat para leluhur yang telah membangun pondasi persaudaraan kokoh, baik di kampung halaman maupun di tanah perantauan. “Mari tetap kompak! Jaga persaudaraan di keluarga besar kita, serta rawat hubungan baik dengan saudara-suku lain di tanah Kenambai Umbai ini. Saling maafkan segala khilaf, buka lembaran baru yang lebih cerah,” pesannya menggetarkan hati.
Momen Penjembatani Kerinduan
Sementara itu, Ketua Flobamora Kabupaten Jayapura, Ferianto Ragalawa, menyambut acara ini sebagai anugerah. “Kemarin-kemarin kita mungkin sibuk, belum sempat berjumpa atau bersalaman di hari raya. Sore ini adalah waktu terbaik untuk menebus kerinduan itu,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa di keluarga besar ini tak ada tempat untuk dendam. “Kita manusia biasa yang tak luput salah. Maka, memaafkan adalah jalan termulia. Saya percaya, semua agama mengajarkan kebaikan. Oleh sebab itu, mari kita simak baik-baik pesan yang akan disampaikan Ustadz Faisal, agar bisa kita amalkan di rumah, di tetangga, dan di masyarakat,” ajaknya.
Filosofi "Silaturahmi" dan Kearifan Lokal Flores
Puncak acara diwarnai tauziah inspiratif dari Ustad Faisal Amal Sarif, S.Pd. yang mengupas makna toleransi mendalam. Berdasarkan obrolannya dengan tokoh masyarakat, Pak Ali Mudin, Ustadz Faisal kagum melihat budaya di Flores. “Di sana sudah biasa: kegiatan umat Nasrani, panitianya Muslim. Kegiatan Muslim, panitianya teman-teman Nasrani. Itu sudah darah daging! Luar biasa, Flores sudah menerapkan kerukunan jauh sebelum FKUB digalakkan di Jayapura,” ungkapnya disambut tepuk tangan meriah hadirin.
Ia pun menyoroti kekayaan bahasa yang justru menjadi perekat. “Di Flores, AMA artinya Bapak, INA artinya Ibu. Di kampung saya Buton, Sulawesi Tenggara, INA artinya Nenek. Indah bukan? Perbedaan makna ini justru menyatukan kita dalam satu nama: Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya bangga.
Mengupas makna silaturahmi, Ustadz Faisal menjelaskan secara puitis. “Silaturahmi berasal dari kata Silah (menyambung) dan Rahmi (rahim ibu). Saat di dalam rahim, anak merasa paling nyaman. Saat lahir, tali fisik terputus, tapi ikatan batin harus terus disambung. Artinya, silaturahmi adalah menyambung tali yang mungkin merenggang agar kembali kuat, damai, dan penuh kasih sayang Allah SWT.”
Dua Momen Satu Jiwa: Idul Fitri dan Paskah
Dalam pesan penutupnya, Ustadz Faisal menegaskan bahwa menyambung tali persaudaraan adalah kewajiban agama. “Ada Silaturahim untuk keluarga darah, ada Ukhuwah untuk sesama saudara. Hari ini kita merayakan dua momen suci: Idul Fitri yang bermakna kembali suci ke fitrah, dan Paskah yang bermakna pembersihan jiwa. Tujuannya sama: kebaikan dan kesucian.”
Ia juga mengingatkan agar menjauhi sifat iri hati. “Orang yang rajin bersilaturahim, umurnya panjang dan berkah. Tapi kalau lihat tetangga bangun rumah atau beli mobil malah sakit hati, itu yang harus kita buang jauh-jauh. Kebahagiaan orang lain harusnya jadi kebahagiaan kita juga.”
“Jangan sampai sedikit masalah membuat hubungan kita retak. Malam ini, mari kita hapus sakit hati, buang dusta, dan saling mengulurkan tangan. Semoga Allah Yang Maha Kuasa mengampuni kita semua dan memberkahi persaudaraan kita selamanya,” tutupnya dengan harapan tulus.(Redaksi)


0 Komentar