Jayapura, Papua Terbit,-Dinas Kesehatan Kota Jayapura mencatat penurunan signifikan kasus malaria selama triwulan pertama bulan Januari hingga Maret tahun 2026. Penurunan tersebut menjadi sinyal positif dalam upaya pengendalian malaria menuju target eliminasi pada tahun 2030.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu, mengatakan jumlah kasus malaria positif mengalami tren menurun dari Januari hingga Maret 2026. Pada Januari tercatat sekitar 7.450 kasus Malaria di Kota Jayapura.
"Kemudian bulan Februari turun menjadi sekitar 5.214 dan kembali menurun menjadi sekitar 3.862 kasus pada Maret.katanya kepada media Papua Terbit, usai kegiatan DPMK kota Jayapura,di salah satu hotel Kota Jayapura, Selasa(9/6/2026)
Menurut Napitupulu, angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang rata-rata mencatat sekitar 6.000 kasus malaria setiap bulan, bahkan pernah mencapai 7.000 kasus dalam satu bulan.
Dinas Kesehatan berharap tren penurunan ini dapat terus berlanjut hingga akhir tahun sehingga target eliminasi malaria di Kota Jayapura pada 2030 dapat tercapai.
Untuk menekan penyebaran malaria, Dinas Kesehatan terus menjalankan strategi "Token"Temukan, Obati, dan Kendalikan melalui kader malaria yang turun langsung ke masyarakat melakukan skrining menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT), baik kepada warga yang mengalami gejala seperti demam dan menggigil maupun yang tidak bergejala.
Warga yang terdeteksi positif malaria langsung diberikan pengobatan secara gratis dari kementerian kesehatan.
Program ini didukung oleh ketersediaan obat dari pemerintah pusat yang didistribusikan melalui pemerintah provinsi hingga ke kabupaten dan kota.
Selain pemeriksaan dan pengobatan, Dinas Kesehatan juga terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri. Masyarakat diimbau menghindari genangan air, membersihkan lingkungan sekitar rumah, serta menjaga kebersihan rumah untuk mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk penular malaria.
Upaya lain yang dilakukan adalah penyemprotan dinding rumah atau Indoor Residual Spraying (IRS) untuk membunuh nyamuk yang biasa hinggap di dalam rumah. Warga yang sering beraktivitas pada malam hari juga diimbau menggunakan obat anti nyamuk atau pelindung diri guna mencegah gigitan nyamuk.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, wilayah dengan kasus malaria tertinggi masih berada di Distrik Muara Tami dan Koya Barat, disusul Distrik Heram-Abepura. Sementara wilayah dengan kasus malaria terendah berada di kawasan Imbi.
Meski angka kasus masih cukup tinggi, Juliana menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat laporan kematian akibat malaria di Kota Jayapura. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh deteksi dini dan penanganan cepat yang dilakukan melalui jaringan kader dan fasilitas kesehatan.
Dari sisi kelompok usia, malaria paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif antara 21 hingga 50 tahun yang memiliki mobilitas dan aktivitas tinggi.
Dinas Kesehatan Kota Jayapura menjelaskan perlu adanya kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah distrik, kelurahan, kampung, hingga masyarakat untuk berkolaborasi dalam pengendalian malaria melalui peningkatan kesadaran menjaga lingkungan, kepatuhan terhadap pengobatan, serta penggunaan kelambu bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia.
Ia berharap dengan kerja sama seluruh elemen masyarakat, Pemerintah Kota Jayapura optimistis angka kasus malaria dapat terus ditekan dan eliminasi malaria pada tahun 2030 dapat diwujudkan.(Epen)

0 Komentar