Jayapura, Papua Terbit,- Rumah Sakit (RS) Dian Harapan berkomitmen untuk meningkatkan akses pelayanan Kesehatan kepada masyarakat Papua, baik pasien yang ada di Provinsi Papua maupun pasien rujukan yang berasal dari provinsi lainnya di tanah Papua.
Hal ini diungkapkan oleh Direktur RS Dian Harapan, dr. Jon Calvin Frans Paat, M.Kes., MMR usai kegiatan Sinergi Stakholder Dalam Peningkatan Mutu dan Akses Pelayanan Rumah Sakit yang berlangsung di Hotel Horison Abepura, Kota Jayapura, Papua, Jumat (10/4/2026).
“Jadi tujuan dari kegiatan ini adalah bagaimana RS Dian Harapan bisa menjawab tantangan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Papua. Kami selama ini kan sudah melayani, namun memang kegiatan ini untuk mendengar masukan dan saran dari semua stekholder, baik masyarakat maupun pemerintah untuk diperbaikan pelayanan kedepan,” jelasnya kepada wartawan.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah stakeholder, seperti Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kota Jayapura, Uskup Keuskupan Jayapura, perwakilan unit karya RS Dian Harapan, hingga para tokoh awam Katolik serta perwakilan eksternal yang ada di wilayah Kota Jayapura.
Melalui kegiatan ini, Dokter Jon berharap kedepan bisa melakukan perbaikan pelayanan di RS Dian Harapan, sehingga bisa lebih ramah dan nyaman serta pelayanan yang cepat, sehingga pasien tidak menunggu lama saat berobat.
“Inilah yang kami dapat dari berbagai usulan dari stekholder melalui kegiatan ini,” ucapnya.
*Tanggapan Uskup Jayapura*
Di tempat yang sama, Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Theopilus Matopai You menegaskan bahwa RS Dian Harapan merupakan salah satu rumah sakit Katolik di Kota Jayapura, sehingga pihaknya terus berbenah, agar ciri khas Kekatolikan tetap ada dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.
“Kita perlu pikirkan sarana doa, seperti Kapela yang harus dibangun di RS Dian Harapan, sehingga pasien selain berobat bisa berdoa disitu dan keluarga pasien juga bisa berdoa, karena sesungguhnya penyembuhan itu datang dari Tuhan,” ungkapnya.
Menurut Uskup Yan, selama ini pelayanan pastoral, seperti pelayanan orang sakit melalui doa, pemberian sakramen hingga kunjungan orang sakit di RS Dian Harapan merupakan salah satu ciri khas kekatolikan yang harus terus dijalankan kedepannya.
Selain itu, Uskup Yan menambahkan bahwa disiplin kerja sebagai orang Katolik, yakni bekerja dengan baik dan menyelesaikan tanggungjawab dengan sepenuh hati sesuai dengan jadwal serta tidak malas-malas atau datang bekerja tidak sesuai dengan jam yang diterapkan (terlambat masuk kerja).
“Katolik kan dikenal dengan disiplin kerja,” ucapnya.
Kata Uskup Yan, saat ini telah dilakukan penataan terhadap pegawai yang bekerja di RS Dian Harapan, sehingga memang ada presentase yang jelas, terkait dengan pegawai yang beragama Katolik dan non Katolik yang bekerja di rumah sakit tersebut.
“Katakanlah ada presentase mengenai 60 sampai 70 persen beragama Katolik dan 30 sampai 40 persen beragama non Katolik, seperti dokter, perawat dan bidannya yang bekerja di RS Dian Harapan,” ujarnya.
Meskipun demikian, Uskup Yan menyatakan, RS Dian Harapan tetap membuka diri untuk merekrut para pegawai yang beragama non Katolik, karena bekerja di rumah sakit menyangkut dengan profesionalitas dan spesialisasi, sehingga misalnya di RS Dian Harapan tidak punya spesialis jantung tidak ada dokter yang beragama Katolik, maka tetap menerima dokter spesialis yang non Katolik.
“Ini agar kita tetap berbaur dan menciptakan iklim kerja yang baik di RS Dian Harapan, guna tetap melayani setiap pasien dan masyarakat yang datang dan berobat,” jelasnya.
“Citra Katolik juga tetap kita jaga di RS Dian Harapan, dimana tetap melayani masyarakat yang tidak mampu atau orang kecil yang datang berobat tanpa dipungut biaya,” sambung dia.
*Berharap Pelayanan Terbaik*
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari mengatakan, Rumah Sakit Kelas C dan D merupakan pembinaan dari Pemerintah Kota Jayapura, sedangkan Kelas B merupakan pembinaan dari provinsi serta Kelas A merupakan pembinaan dari pemerintah pusat.
“Rumah Sakit (RS) Swasta yang ada di Kota Jayapura merupakan kelas C, sehingga berada dibawah pembinaan kita (Pemkot Jayapura),” katanya.
Ni Nyoman berharap, rumah sakit swasta hingga rumah sakit milik pemerintah daerah harus memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat Papua yang ada di Kota Jayapura.
“Kami tentunya menyediakan obat program, sehingga bisa melayani masyarakat. Selain itu, ada perjanjian kerjasama untuk melayani masyarakat Kota Jayapura, karena rumah sakit ini berada di wilayah Kota Jayapura dan ini merupakan kewajiban,” ucapnya. (YW)


0 Komentar