Jayapura, Papua Terbit, - Para seniman dan musisi di Kota serta Kabupaten Jayapura menutup rangkaian aksi amal “Karin Vixion Konser” pada malam Selasa, 2 September 2026, di depan Gedung Dewan Kesenian Papua, Kota Jayapura. Kegiatan yang berlangsung sejak 29 Agustus di Kabupaten Jayapura, dilanjutkan 1–2 September di Kota Jayapura, ini digerakkan sebagai bentuk kepedulian terhadap korban gempa bumi di Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Koordinator kegiatan aksi amal Ferry Rumbino menuturkan, aksi amal ini merupakan respons spontan seniman lokal terhadap musibah di Flores, dengan memanfaatkan talenta musik dan hiburan untuk mengumpulkan sumbangan. Rangkaian pertama digelar pada 29 Agustus 2026 di Kabupaten Jayapura, melibatkan sejumlah seniman kabupaten setempat, dan mendapat dukungan penuh dari Polres Jayapura serta izin keramaian dari pihak Terkait.
"Untuk pelaksanaan di Kota Jayapura, panitia mengajukan izin keramaian dengan lokasi di depan Gedung Dewan Kesenian Papua. Menurut koordinator, konser dua malam (1–2 September) tidak mengganggu lalu lintas karena area pertunjukan tertata rapi dan tetap memungkinkan arus kendaraan berjalan lancar. Antusiasme warga cukup tinggi, dengan partisipasi juga datang dari Komunitas Artis Maluku yang berdomisili di Jayapura,"katanya.
Usai menutup konser amal untuk korban gempa Flores, para seniman menyatakan keprihatinan terhadap kebakaran hebat yang melanda kawasan Kampung Nelayan (Palopo), Dok V Bawah, Kelurahan Mandala, Distrik Jayapura Utara, pada Senin, 31 Agustus 2026. Kebakaran yang diduga bermula dari sebuah indekos itu menghanguskan ratusan rumah dan membuat sekitar 550 kepala keluarga (KK) atau lebih dari 2.000 jiwa kehilangan tempat Tinggal.
“Kami sebagai pemerhati seniman Kota Jayapura ikut prihatin dengan situasi yang terjadi di Dok V Bawah. Kami siap berkoordinasi dengan senior dan artis lain untuk merencanakan aksi amal lanjutan, bila ada sponsor atau pihak yang siap mendukung,”ujar Ferry.
Ia menambahkan, dalam 1–2 hari ke depan akan dilakukan evaluasi internal bersama seluruh pihak terlibat untuk membahas kemungkinan menggelar kegiatan serupa bagi korban Kebakaran.
Ia berharap agar pemerintah daerah—baik Kota, Provinsi, maupun Kabupaten di sekitar Jayapura—lebih aktif mendukung dan memfasilitasi aksi-aksi kemanusiaan berbasis seni. Mereka menilai, perhatian pemerintah penting tidak hanya untuk pengembangan bakat, tetapi juga sebagai respons cepat terhadap musibah yang terjadi di tengah Masyarakat.
Ferry menyoroti perlunya revitalisasi lembaga kesenian, termasuk Dewan Kesenian, agar berfungsi optimal sebagai wadah yang menampung dan mengkoordinasi karya serta kegiatan seniman Papua. “Kami melihat ada semacam kevakuman dalam kelembagaan yang mewadahi seniman. Perlu difungsikan kembali agar seniman bisa terus berkarya dan tidak tergantung sepenuhnya pada teknologi atau inisiatif Sporadis,”ucap Ferry.
Ia mengapresiasi sejumlah program wali kota yang pernah melibatkan seniman melalui lomba dan event kebudayaan, serta berharap kepedulian itu berlanjut dalam bentuk dukungan struktural terhadap ekosistem kesenian di Port Numbay (Jayapura) dan Tanah Papua secara Umum.
"Kebakaran Dok V Bawah menjadi salah satu musibah terbesar yang melanda Jayapura dalam beberapa tahun terakhir. Hingga 2 September 2026, polisi masih melakukan olah TKP dan memeriksa sejumlah saksi untuk memastikan penyebab pasti kebakaran. Sementara itu, ribuan korban mengungsi di tenda darurat di sekitar Stadion Mandala dan menerima bantuan logistik dari pemerintah daerah, TNI-Polri, serta Kementerian Sosial,"ungkap nya.
Di tengah situasi itu, gerakan solidaritas seniman Jayapura—yang awalnya ditujukan untuk korban gempa Flores—kini diarahkan untuk mempertimbangkan aksi lanjutan bagi sesama warga Papua yang terdampak kebakaran. “Jangan hanya peduli pada saudara di luar Papua, mari kita juga peduli pada kesusahan saudara kita di sini,” pungkas Ferry.(Alex)

0 Komentar