Unicef Kolaborasi dengan Dinkes Papua Perkuat Media KIE Cegah Imunisasi Polio di Lintas Batas RI-PNG

 


Jayapura, Papua Terbit,-UNICEF berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Papua menggelar Workshop Penguatan Strategi Komunikasi dan Penyusunan Media KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) mengatasi masalah imunisasi polio khususnya di wilayah perbatasan RI-Papua Nugini (PNG) yang Berbasis Konteks Lokal, Sosial,Budaya,dan Bahasa Masyarakat, berlangsung di Hotel Horison Kotaraja-Kota Jayapura, (01 September 2026).

Workshop ini merupakan salah satu respons terhadap hasil Survei Cepat Komunitas (SCK) Polio 2026 di Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom yang menunjukkan masih adanya kesenjangan pengetahuan masyarakat terkait imunisasi rutin dan Polio. 

Survei yang dilakukan di 8 kampung perbatasan dan melibatkan 165 rumah tangga itu menemukan bahwa hanya sekitar 40 persen responden yang mengetahui penyakit Polio, dan kurang dari 15 persen yang mengetahui jadwal imunisasi Polio dengan benar. Bahkan, sekitar separuh responden tidak mengetahui bahwa Polio masih ada di Indonesia.

Melalui kegiatan ini, peserta didorong tidak hanya menyampaikan informasi imunisasi, tetapi juga mengembangkan pendekatan komunikasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Strategi tersebut mencakup pemilihan bahasa, pesan, media, serta pihak yang dipercaya masyarakat untuk menyampaikan informasi kesehatan.

Kegiatan melibatkan lintas program dan lintas sektor, termasuk tenaga kesehatan, kader, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur yang memiliki peran dalam pengawasan kesehatan di wilayah perbatasan.

Ketua Tim Kerja Pengawasan Faktor Risiko Kesehatan Orang, Kegawatdaruratan dan Situasi Khusus Balai Karantina Kesehatan(BKK) Kelas I Jayapura, dr. Danur Widjura, mengatakan cakupan imunisasi di sejumlah wilayah Papua yang masih tergolong rendah menjadi perhatian dalam upaya mencegah penyebaran penyakit menular, khususnya di kawasan perbatasan Indonesia-Papua Nugini (PNG).

Masyarakat di kawasan lintas batas umumnya lebih banyak menggunakan bahasa tok pisin sehingga penyampaian informasi kesehatan, termasuk mengenai pentingnya imunisasi, perlu menggunakan media komunikasi yang mudah dipahami.

Dalam menghadapi penurunan cakupan imunisasi polio dan MR (Measles Rubella), sosialisasi dilakukan melalui berbagai media, antara lain spanduk dan pamflet.

Menurut Danur, peningkatan cakupan imunisasi membutuhkan strategi lintas sektor. Salah satu persoalan yang dihadapi petugas kesehatan di wilayah perbatasan adalah komunikasi dengan masyarakat.

Masyarakat di kawasan lintas batas umumnya lebih banyak menggunakan bahasa Pidgin sehingga penyampaian informasi kesehatan, termasuk mengenai pentingnya imunisasi, perlu menggunakan media komunikasi yang mudah dipahami.

Dalam menghadapi penurunan cakupan imunisasi polio dan MR (Measles Rubella), sosialisasi dilakukan melalui berbagai media, antara lain spanduk dan pamflet.

"BKK Kelas I Jayapura tidak menyediakan vaksin secara langsung. Namun, pihaknya berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan puskesmas untuk menghitung kebutuhan vaksin bagi anak-anak dan masyarakat di kawasan lintas batas,"ujarnya

Di singgung  Ditemukan Kasus Polio di lintas batas RI-PNG, Danur menyebutkan, hingga saat ini tidak ditemukan kasus polio di wilayah Skouw maupun Mosso Distrik Muara Tami Kota Jayapura.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan data WHO tahun 2024, terdapat laporan kasus positif polio di Papua Nugini.

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pengawasan kesehatan di wilayah perbatasan untuk meminimalisir risiko masuknya penyakit menular.

Menurutnya, langkah perlindungan kesehatan lintas batas perlu diperkuat melalui koordinasi antar instansi dan kerja sama kedua negara.

Peningkatan cakupan imunisasi, penguatan komunikasi kepada masyarakat, pemenuhan kebutuhan vaksin serta pengawasan di pintu masuk perbatasan dinilai menjadi bagian penting dalam upaya mencegah penyebaran penyakit dan menjaga kesehatan masyarakat Papua.

Sementara itu, Akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen), Handro Lekito, menilai kegiatan penguatan komunikasi kesehatan sangat penting untuk menjangkau masyarakat di wilayah perbatasan Papua Nugini dan Indonesia, khususnya Skouw, Waris, Senggi, Keerom hingga Kota Jayapura.

Menurutnya, masih banyak anak-anak di daerah jauh yang belum mengikuti imunisasi. Kondisi ini dinilai menjadi ancaman karena anak yang tidak mendapatkan imunisasi rentan terhadap penyakit seperti polio.

“Harapannya apa yang dibahas hari ini bisa segera ditindaklanjuti dan bisa diterapkan di masyarakat. Hingga masyarakat bisa mengerti pentingnya imunisasi bagi generasi bangsa, terutama anak-anak yang ada di wilayah perbatasan diantara Papua dan Papua Nugini,” ujar Handro.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan budaya dalam komunikasi kesehatan. Menurutnya, masyarakat Papua memiliki banyak suku dengan bahasa dan budaya yang berbeda.

Handro menegaskan, pendekatan kesehatan yang melupakan budaya merupakan kesalahan fatal. Karena itu, komunikasi kesehatan di Papua harus disesuaikan dengan kondisi dan budaya masyarakat setempat.(Epen)

Posting Komentar

0 Komentar