Universitas Muhammadiyah menggelar Kuliah Tamu bersama Pakar Komunikasi Pembangunan Indonesia

 


Jayapura, Papua Terbit,- Universitas Muhammadiyah Papua  menggelar kegiatan Kuliah Tamu bersama Prof. Dr. Hafied Cangara, M. SC., Ph.D., pakar komunikasi pembangunan Indonesia. Kuliah tamu ini mengangkat tema "Komunikasi Digital dan Pembangunan Wilayah Kepulauan (Archipelago Communication), Selasa (27/1/2026), bertempat di Ruang A UM Papua.

Kuliah Tamu ini dihadiri oleh pimpinan, dosen, serta mahasiswa program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Papua. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya wawasan akademik mahasiswa mengenai peran strategis komunikasi digital dalam mendukung pembangunan di wilayah kepulauan yang memiliki tantangan geografis dan keterbatasan akses.

Dalam penyampaian materi pada kuliah tamu, Hafied Cangara, menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang dianugerahi kekayaan sumber daya alam, keragaman budaya, serta sumber daya manusia yang memiliki kemampuan tinggi untuk beradaptasi dengan lingkungan. Menurutnya, perbedaan suku, budaya, dan pola hidup masyaraka, termasuk keberagaman pangan lokal seperti sagu, pisang, dan beras, ini merupakan modal penting dalam pembangunan bangsa.

Ia menegaskan bahwa keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan utama Indonesia dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan pembangunan. Hafied Cangara memandang perbedaan bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai sumber daya yang memungkinkan manusia untuk terus berkembang dan belajar.

“Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Manusia bisa hidup dengan sagu, bisa hidup dengan pisang, bisa hidup dengan beras. Dari situlah muncul perbedaan, dan perbedaan itu adalah sumber daya. Karena tanpa perbedaan, manusia tidak bisa maju dan tidak bisa belajar tentang identitas bangsanya,” ungkapnya. 

Lebih lanjut, Prof Hafied Cangara menekankan tantangan pembangunan di wilayah kepulauan, khususnya persoalan keterisolasian, keterbatasan transportasi dan logistik, serta lambatnya arus komunikasi dan informasi. Ia menekankan bahwa teknologi komunikasi digital, terutama teknologi satelit, memiliki peran strategis dalam menjaga integrasi nasional sekaligus mempercepat pembangunan di wilayah terpencil, termasuk Papua.

“Tanpa komunikasi yang kuat dan dukungan teknologi satelit, wilayah-wilayah kepulauan akan semakin terisolasi. Dengan adanya satelit komunikasi, Aceh tidak terasa jauh dari Jayapura, dan informasi dapat bergerak dengan cepat ke seluruh pelosok negeri,” jelasnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa di era revolusi digital saat ini, masyarakat dituntut untuk memiliki kemampuan analisis yang baik, bersikap kritis terhadap perubahan, serta mampu mengembangkan kreativitas. Hal tersebut penting agar pemanfaatan teknologi komunikasi tetap berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan kesejahteraan sosial.

Hafied Cangara menekankan pentingnya penguasaan keilmuan komunikasi secara komprehensif, khususnya bagi generasi muda di Papua. Ia menyampaikan optimismenya terhadap perkembangan keilmuan komunikasi di Papua ke depan.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Papua, Dr. Indah Sulistiani, menjelaskan bahwa penyelenggaraan kuliah tamu ini memiliki urgensi yang sangat besar dalam konteks pendidikan tinggi saat ini. Menurutnya, kehadiran pakar komunikasi Indonesia memberikan nilai tambah yang signifikan bagi mahasiswa, terutama dalam memahami dinamika komunikasi pembangunan di era digital.

“Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa dapat mengagregasi berbagai pemahaman terkait pembangunan komunikasi di era teknologi informasi dan komunikasi yang saat ini sangat memerlukan sentuhan digital dalam proses komunikasi,” jelasnya.

Indah juga menyoroti bahwa wilayah kepulauan menghadapi berbagai hambatan, baik dari sisi akses transportasi maupun akses informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi komunikasi menjadi solusi strategis dalam menyebarluaskan pesan-pesan pembangunan di bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan.

“Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat tidak lagi dibatasi oleh jarak, waktu, dan biaya yang besar. Kini, masyarakat di wilayah terpencil sekalipun dapat memasarkan produk dan mengakses informasi pembangunan dengan lebih mudah,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam mendukung pembangunan wilayah kepulauan melalui Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil-hasil riset dan pengabdian dosen diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

“Perlu adanya sinergi antara perguruan tinggi, civitas akademika, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait agar hasil riset dan pengabdian dapat dioptimalkan dalam mendukung pembangunan masyarakat wilayah kepulauan,” ujarnya.

Terkait implementasi hasil kuliah tamu, Indah menjelaskan bahwa hal tersebut akan terintegrasi dalam roadmap penelitian dan pengabdian dosen yang telah tertuang dalam pedoman akademik Universitas Muhammadiyah Papua. Dengan demikian, gagasan dan pemikiran yang berkembang dalam kuliah tamu ini dapat berkelanjutan dan berdampak nyata.

Ia juga berharap agar kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas akademik, riset, dan pengabdian masyarakat di bidang komunikasi pembangunan, dengan menekankan pentingnya kajian yang berbasis pada konteks lokal.

“Dosen dan mahasiswa terus didorong untuk mengoptimalkan kajian-kajian akademik yang relevan dengan kondisi nyata masyarakat setempat. Hal ini telah terimplementasi melalui berbagai riset, diskusi, dan pembahasan di ruang kelas yang mengangkat kasus-kasus sesuai dengan konteks dan karakteristik lokal di masing-masing daerah), pungkasnya.

Harapan ke depan, Universitas Muhammadiyah Papua akan terus memberikan dukungan agar kajian akademik di bidang komunikasi pembangunan semakin berbasis pada sistem dan konteks lokal, sehingga dapat menjadi bagian dari kearifan lokal serta memperkuat ciri khas daerah. Optimalisasi pendekatan ini diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih besar bagi pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Mengingat Papua memiliki kekayaan budaya, kearifan lokal, dan keunikan sosial yang tinggi, potensi tersebut perlu terus diintegrasikan dalam kajian akademik agar pembangunan yang dilakukan benar-benar berakar pada identitas dan kebutuhan masyarakat setempat.(Redaksi)

Posting Komentar

0 Komentar